Modal Asing Rp300 Triliun Tak Tertampung
JAKARTA, - Pada akhir tahun 2010 diperkirakan akan ada aliran modal asing sekitar Rp 300 triliun atau sekitar 30 miliar dollar AS yang tidak akan tertampung oleh pasokan instrumen investasi di pasar modal dan pasar keuangan Indonesia
ni dimungkinkan karena dunia sedang melirik Indonesia sebagai salah satu negara di Asia yang sangat menarik untuk penempatan modal investor karena menjanjikan keuntungan yang besar.
Pada awal tahun 2010, cadangan devisa sudah mencapai 60-63 miliar dollar AS, lalu naik menjadi 70 miliar dollar AS saat ini."Saya yakin, pada akhir tahun 2010 , cadangan devisa bisa mencapai 100 miliar dollar AS, artinya akan ada aliran dana tambahan sekitar Rp 300 triliun yang masuk. Ini tidak akan tertampung di pasar modal dan keuangan Indonesia," ungkap ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Kahlil Rwoter di di Jakarta, Rabu (21/4/2010) saat berbicara dalam Media Update tentang Membedah Kinerja BUMN di Pasar Modal.
Kahlil memperkirakan, seluruh penerbitan surat utang negara dari pemerintah, penawaran saham perdana dari perusahaan swasta, maupun penawaran kedua saham swasta di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak akan sanggup menampung permintaan asing atas instrumen investasi yang datang dari luar negeri.Atas dasar itu, baik perusahaan swasta maupun pemerintah masih mempunyai peluang sangat besar untuk menambah jumlah dan jenis instrumen investasi, mulai dari obligasi maupun saham.
"Katakan ada tambahan cadangan devisa 30 miliar dollar AS pada akhir tahun 2010. Jika 50 persennya itu masuk ke pasar modal pun, tidak akan mampu ditampung, karena permintaan yang begitu besar, sedangkan pasokan saham melalui IPO (penawaran saham perdana) atau secondary offering tidak memadai," ujarnya.
Atas dasar itu, Indonesia adalah sasaran investasi yang sangat menarik dalam jangka panjang, tiga hingga delapan tahun ke depan. I ni dimungkinkan karena fundamental ekonomi yang sangat baik, terutama karena kinerja Indonesia yang mampu bertahan pada pertumbuhan ekonomi yang positif pada saat negara lain dilanda krisis keuangan tahun 2008 dan 2009.
"Dalam jangka panjang, Indonesia sangat menarik. Tapi dalam jangka panjang, sudah pasti akan ada fluktuasi di pasar modal, dan itu adalah hal yang sangat wajar," ujar Kahlil.
Sumber : kompas.com


